Jumat, 02 Oktober 2009

HP In The Class

HP In The Class

IFTITAH

Handphone atau disingkat HP merupakan bagian dari perkembangan jaman. Sehingga orang yang tidak memiliki produk jaman berupa HP disebut sebagai orang yang tidak berkembang dalam menghadapi jaman alias ketinggalan jaman. Itu adalah gambaran opini sementara ketika kita mendefinisikan HP sebagai produk jaman kekinian.

Perkembangan HP sebagai produk teknologi kekinian sulit kita hindari. Iklan di televise, surat kabar, papan reklame, dan lain-lain yang menggambarkan tentang produk teknologi berupa HP dan tampilannya, semakin menambah pamor HP di tengah-tengah masyarakat, apalagi penyampaian informasinya diberikan berkali-kali tentu fenomena jarum hypodermic-masyarakat yang menerima informasi secara bertahap akan terangsang dan terpengaruh-akan semakin menggejala.

Daya tarik HP sebagai perangkat telekomunikasi elektronik, yang dapat dibawa kemana-mana (portable) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telephone menggunakan kabel (nirkabel), menjadi banyak disukai oleh bermacam kalangan profesi, baik itu: businessman, pekerja swasta, karyawan, pegawai pemerintahan, guru bahkan pelajar sekalipun.

Penggunaan HP bagi kalangan bisnisman, pekerja swasta, pekerja pemerintahan sedikit banyak membantu dalam kinerja pekerjaanya, seperti dalam pelayanan, transaksi bisnis dan promosi. Karena dengan sifat HP yang segalanya menjadi dekat dan tanpa jarak menjadikan pekerjaan mereka menjadi simple, tidak banyak mengeluarkan financial. Oleh karena itu, bagi mereka, yang memiliki mobilitas tinggi dalam aktifitasnya, memiliki handphone mutlak diperlukan.

Namun, bagaimana ketika HP dimiliki oleh kalangan profesi sebagai pelajar? Apakah sama pentingnya dengan kalangan tertentu, yang memilki mobilitas tinggi? Bahkan, survey menunjukan pelajar bukan hanya memiliki HP, tapi mereka sudah berani membawa HP ke dalam kelas. Kalau sudah demikian, dapatkah HP menjadi perangkat yang dapat menambah prestasi pelajar di kelas? Atau sebaliknya, HP menjadi perangkat negative, yang akan menurunkan prestasi pelajar bahkan moral pelajar.

Tentang Handphone

Handphone (HP), atau sebagian kalangan menyebutnya cellular atau mobile popular pada akhir 1990-an dan awal 2000-an. Sebelumnya, alat komunikasi masih menggunakan alat komunikasi berupa telephone rumah, koin maupun kartu, yang menggunakan perantara kabel listrik sebagai komponen untuk menghantarkan bunyi dari satu tempat ke tempat lain.

Antara HP dan telephone koin atau kartu memilki persamaan sifat, yaitu sebagai alat untuk berkomunikasi. Namun dalam hal kenyamanan tentu memilki perbedaan. Jika dulu seseorang ingin melakukan komunikasi dengan seseorang di tempat lain harus menukarkan uang kertas ke uang recehan, atau harus membeli kartu telephone yang harganya selangit. Tapi kini HP menawarkan kemudahan, kenyamanan dan murah meriah. Sehingga HP bukan lagi barang eksklusif, yang hanya dapat digunakan oleh kalangan menengah ke atas, tapi sekarang HP dapat dibeli oleh kalangan bawah sekalipun.

Selain itu juga, dari segi merk dan perangkat yang digunakan oleh pemakai. Awalnya, hanya merek-merek tertentu dan digunakan sebagai telephone dan sms saja. Namun dengan semakin berkembangnya teknologi, sehingga perangkat handphone semakin lengkap. Hal ini pernah disinggung oleh Renald Kasali dalam Bukunya, Re-Code Your Change DNA, bahwa akibat terjadinya persaingan yang ketat maka melahirkan produk-produk baru. Maka merek-merek baru dengan perangkat baru, mulai dari game, Mp3, kamera, radio dan koneksi internet, bahkan sekarang muncul kembali teknologi baru untuk melengkapi komponen yaitu 3G.

HP adalah sakunya pelajar

Perkembangan teknologi semakin memasyarakat dikalangan anak didik atau pelajar. Hal ini merupakan suatu kebanggaan bagi orang tua, karena mempunyai anak yang tidak ketinggalan jaman. Orang tua menyadari akan pentingnya HP bagi anaknya dengan berbagai alasan. Sehingga HP dewasa ini bukan barang mewah lagi atau bukan kebutuhan sekunder, melainkan kebutuhan primer.

HP sebagai kebutuhan primer membuat pelajar berlomba-lomba untuk memilikinya. Orang tua pun tidak merasa keberatan dan terbebani dengan permintaan anaknya, karena dengan uang Rp.150.000 orang tua dapat membelikan anaknya sebuah HP merek Nokia tipe 315.

Kenyataan seperti ini membuat para pelajar begitu leluasa membawa HP ke manapun, di manapun dan kapanpun. Ketika di rumah, di tempat tongkrongan, bahkan di sekolah sekalipun. Pendapat mereka, "yang penting saya punya HP, saya tidak ketinggalan jaman, saya orang modern, saya orang teknologi".

Sehingga dulu ketika HP belum popular, telephone masih menggunakan koin dan kartu pelajar membawa buku pelajaran, kalkulator untuk menghitung, penggaris untuk mengukur dan tas untuk membawa semua peralatan itu sudah biasa, karena seperti itu keseharian pelajar berangkat dari rumah ke sekolah. Namun, ketika pelajar membawa HP sebagai perlengkapan sekolahnya tentu tidak lazim, bahkan tidak biasa.

Kenyataannya sekarang banyak pelajar yang membawa HP ke dalam kelas. HP sudah ada di saku mereka, sudah dipersiapkan sebelum berangkat ke sekolah. Kondisi seperti ini tidak aneh, karena di sekitar daerah priangan saja, meliputi Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar dan lain-lain, menurut Rudi P. Sitompul sebagai Manager Branch Telkomsel Market Share wilayah periangan, 65 persen per Juni 2009, customer based (pelanganggan) mencapai angka 1.570.220. Tentu dari seratus ribu lebih pelanggan terdapat diantaranya sebagai pelajar.

Sehingga dengan gejala seperti ini, Safrizal menyebutnya sebagai imperialism budaya.. Tentu ini jauh dari tugasnya sebagai pelajar, karena perbuatan ini dapat mengganggu konsentrasi pelajar dalam menerima pelajaran.

HP in the class

Kelas adalah ruangan luas yang dapat menampung 30 sampai 40 siswa. Biasanya disetiap sekolah paling minimal memiliki 6 kelas untuk tingkat dasar atau 3 kelas untuk tingkat menengah dan atas. Fungsinya, dari dulu sampai sekarang masih sama, yaitu sebagai tempat untuk belajar mengajar, juga sebagai tempat kedua setelah rumah sebagai tempat tinggal pertamanya.

Sehingga menjadikan sekolah seperti rumah sendiri, baik itu dalam merawatnya, membersihkannya, memperindahnya maupun kelengkapan administrasinya. Seperti, di kelas harus ada peralatan kebersihan, agenda kelas, absensi, struktur organisasi kelas, jadwal kebersihan, foto presiden dan wakil presiden dan lain-lain.

Juga dalam menjaga kondisinya, kelas yang baik adalah kelas yang proporsional, yaitu ruangan yang hanya ditujukan atau difungsikan untuk belajar bagi para pelajar dan mengajar bagi para pendidik (baca:guru). Dengan demikian penggunaan selain itu, akan mengganggu fungsi dari kelas itu sendiri termasuk akan merusak kondisi dan situasi belajar mengajar.

Pengertian HP in the class kurang lebih maknanya, HP di dalam kelas, atau adanya alat komunikasi di dalam kelas yang dibawa oleh guru khususnya pelajar.

Keterangan HP bukan lagi barang ekslusif, sekunder dan keterangan HP sudah ada di saku para pelajar menunjukan bahwa HP bukan lagi barang yang susah untuk dimiliki. Semua orang, terutama pelajar memilki peluang besar untuk memilkinya.

Hal inilah yang membawa pemikiran pelajar, menyamakan HP dengan alat-alat lainnya. Sehingga hal tersebut menjadi dalil 'aqli bagi para pelajar menghalalkan HP dibawa ke dalam kelas. Kemudian, sama dengan alat belajar lainnya, HP pun bebas dioperasikan di dalam kelas, baik itu untuk menelephone, sms, internet, maupun sekedar lihat-lihat photo saja.

Coba kita amati bersama, fenomena penggunaan HP dikalangan pelajar sudah melampaui batas kewajaran. Ditambah dengan banyaknya future yang tersedia dalam jenis HP tertentu menambah banyaknya penyalahgunaan HP di kalangan pelajar, baik pelajar SD, SMP, SMA maupun Mahasiswa. Dengan menggunakan layanan sms atau telephone contohnya, banyak para pelajar yang menggunakan layanan tersebut di dalam kelas, waktu istirahat atau saat proses belajar mengajar berlangsung.

Tidak kalah menariknya untuk diungkapkan tentang perilaku pelajar dalam ruangan kelas ketika mata pelajaran matematika, kimia atau fisika, HP semuanya keluar dari kantong atau tasnya hanya untuk menjumlahkan, mengurangkan atau mengalikan bilangan-bilangan sederhana dalam contoh perhitungan guru. Tentu ini gejala buruk bagi perkembangan nalar atau logika berfikir siswa. Tidak percaya dengan pikirannya, lambat menggunakan pikiran atau nalar bahkan factor malas orat-oret karena lebih praktis dengan HP. Yang lebih memprihatinkan menjawab so'al ulangan dengan bantuan teman melalui SMS.

Termasuk krisis moral pelajar

Berbicara tentang krisis moral, apalagi dikaitkan dengan pelajar tentu tanpa komando untuk mulai berhitung, pikiran kita mulai berhitung tentang banyaknya krisis moral pelajar yang kita dengar, lihat bahkan rasakan. Novi Liana Rosida menyebutkan tentang krisis moral remaja, seperti perkelahian remaja, narkoba, sex pra-nikah, kurang menghormati bapak/ibu guru, maupun kadang-kadang kepada kedua orang tua.

Krisis moral pelajar tidak berkutat diperkelahian, narkoba dan sex, terdapat pula krisis pelajar yang kalau dibiarkan tanpa ada pencegahan akan sangat berbahaya. Krisis moral yang dimaksud adalah penggunaan HP oleh para pelajar di kelas. Pelajar yang membawa HP cenderung bersifat individualism, mereka bergaul bukan dengan teman disampingnya melainkan orang di luar lingkungan belajarnya dengan sarana sms HPnya. Kemudian timbul sifat egois dan pamer di kelasnya sendiri, sehingga ketika temannya meminta untuk meminjam HP, karena alasan mahal, takut rusak HP pun enggan untuk dipinjamkan.

Bagi pelajar yang tidak membawa HP tentu akan merasa dirinya asing dari teman-temannya yang memilki HP. Sekali dua kali dipinjam untuknya, selanjutnya tidak heran timbul rasa malu , apalagi tidak dapat mengoprasikannya. Siswa yang tidak mempunyai HP harus beradaptasi, agar tidak terseleksi di lingkungan kelasnya, caranya "menuntut kepada orang tua untuk dibelikan HP". Inilah kemudian yang disebut teori konflik laten, yaitu integritas semakin melemah dan kesenjangan pergaulan akibat teknologi semakin besar walaupun tidak muncul di permukaan.

Pembahasanya tidak sampai di sana, dapat lebih besar lagi seperti fenomena gunung es, semakin membesar. Salah satu contoh yang paling memperihatikan, karena pelajar memilki HP yang disalahgunakan adalah meningkatnya video porno dan kata-kata yang tidak senonoh. Pelajar tidak akan kesulitan untuk mendapatkan video dan kata-kata seperti itu. Karena dengan HP yang memiliki perangkat video Player pelajar akan leluasa mendownload video porno, kapanpun dan dimanapun. Ironisnya, mereka melakukan semua aktifitas itu, selain di rumah, di tempat main pun di dalam kelas, baik ketika dalam proses belajar mengajar maupun waktu jam istirahat.

Solusi

Gejala yang mewabah sebagian pelajar di atas, terutama pelajar yang memiliki HP perlu adanya obat untuk menangkal kebiasaan jelek tersebut. Sebab, jika kebiasaan ini dibiarkan, menurut Imam Alghajali akan melahirkan perbuatan spontan, akan berubah menjadi moral, tabi'at, akhlaq, dan watak jelek sebagian pelajar.

Kemudian, apa yang harus dilakukan oleh pihak yang bertanggung jawab. Pihak di sini adalah kita, orang tua, bapak/ibu guru dan rekan/sahabat sejawat. Pertama, memberikan penjelasan kepada pelajar dampak positif dan negative yang ditimbulkan oleh HP. Karena menurut Tb. Daniel Azhari, semua tergantung kepada orang yang menggunakannya. Selama orang memanfaatkannya untuk hal-hal positif, maka kemajuan teknologi sellular ini dapat membawa manfaat yang besar bagi umat manusia. Tentu orang tua, bapak/ibu guru dan rekan sejawat harus menjelaskan sejujur-jujurnya dan sejelas-jelasnya kepada para pelajar agar dapat mengerti tentang manfaat dan bahaya yang akan ditimbulkan oleh penggunaan HP.

Kedua, bagi bapak dan ibu guru, pada setiap pertemuan orang tua siswa, yang biasa terjadi saat pengambilan rapot, diselingi dengan penyuluhan tentang bahaya HP. terhadap para anak-anak mereka dan segera menegur mereka.

Ketiga, secara berkala pihak sekolah melakukan operasi terhadap benda-benda yang dilarang dibawa ke sekolah agar tidak mengurangi konsenterasi belajar. Supaya pelajar benar-benar menjalankan tugasnya sebagai pelajar, duduk konsentrasi, menyimak, memperhatikan pembelajaran di sekolah.

Kemudian menanggapi permasalahan moral pelajar, Novi Liana Rosida mengatakan, maka pendidikan budi pekerti di sekolah-sekolah sangat penting. Oleh karena itu perlu disampaikan melalui integrasi pada semua bidang studi yang terdapat di sekolah.

Pendidikan budi pekerti bertujuan untuk menciptakan moral pelajar yang lebih baik. Sementara itu, bagaimana dengan pelajaran Agama, PKN dan BK (Bimbingan Konseling, apakah sesuai dengan pendidikan budi pekerti? Menurut Rosida, ketiga pelajaran tersebut meskipun dalam pembahasannya berkaitan dengan etika moral dan adab yang santun, ternyata tidak mampu membentuk budi pekerti yang baik, alasannya karena pelajaran tersebut hanya menitik beratkan pada nilai saja, bukan pada prilaku para siswa dalam keseharian. Sedangkan pendidikan budi pekerti berhadapan langsung dengan prilaku siswa sebenarnya di kelas dan di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah.

Oleh karena itu, dalam pendidikan budi pekerti perlu adanya: Pertama, penilaian harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan mempunyai kekuatan mengikat (dijadikan pertimbangan kenaikan kelas dan kelulusan) yang didasarkan pada kondisi objektif pelajar bukan hasil menjawab pertanyaan. Kedua, selalu adafungsi control yang terus menerus terhadap perilaku siswa. Ketiga, sekolah harus bertindak tegasterhadap setiap pelanggaran yang terkait dengan budi pekerti. Keempat, guru harus mampu menjadi suri tauladan yang baik kepada siswanya.

Dengan demikian dari empat macam yang perlu diperhatikan dalam penerapan pendidikan budi pekerti tersebut, diharapkan akan menjadi terapi dekadensi moral pelajar yang nantinya dapat menghilangkan tawuran, kekerasan dan sifat anarki serta lebih penting lagi dapat menghilangkan kebiasaan pelajar membawa HP ke kelas atau sekolah.

Simpulan

Penggunaan produk telekomunikasi berupa HP, kini telah banyak tersebar di masyarakat, mulai dari kalangan bawah, menengah dan atas. Mulai dari bisnisman, pegawai pemerintahan, karyawan, guru, buruh bahkan pelajar tingkat dasar menengah, atas maupun mahasiswa. Semuanya telah memiliki dan menggunakannya setiap kesempatan.

Pelajar sebagai insan yang menuntut ilmu di sekolah, dengan fenomena seperti ini sedikit banyak dari mereka menjadikan HP sebagai gaya hidup. Sehingga tidak sedikit dari pelajar yang membawa HP ke dalam kelas, untuk kemudian menggunakannya, baik itu sekedar sms maupun nelphone.

Tentu hal seperti ini sangat ironis. Pelajar yang semestinya belajar dengan penuh keseriusan, karena sebab HP menjadi tidak sungguh-sungguh dan tidak konsentrasi. Oleh karena itu, perlu adanya pengawasan, penyuluhan dari semua pihak, baik itu orang tua, ibu/bapak guru maupun teman sejawat tentang dampat positif dan negative penggunaan HP, supaya kebiasaan pelajar membawa HP ke dalam kelas dapat dicegah.

Selain pengawasan dan penyuluhan tersebut, bagi pihak sekolah perlu dikaji lebih dalam tentang wacana pendidikan budi pekerti. Meskipun disekolah terdapat pelajaran yang berkaitan dengan etika dan moral, namun itu belum cukup. Perlu adanya pendidikan budi pekerti yang lebih tahu tentang objektif perilaku siswa, untuk kemudian pihak sekolah mengambil tindakan tegas, baik itu berupa punishment maupun skorsing.

Penutup

Demikian uraian singkat pembahasan tentang HP in the class. Mudah-mudahan tidak ada lagi pelajar yang iseng sengaja membawa HP ke dalam kelas. Kalau pun ada, maka gunakanlah untuk kepentingan organisasi, konsultasi pelajaran, dan bukan untuk kepentingan yang tidak memiliki nilai manfaat.

Mengetahui tentang teknologi kekinian tetap kita gali, itu sangat penting, namun penggunaan-penggunaan yang tidak proporsional perlu kita hindari bahkan hilangkan, karena akan merusak moral pelajar. Bukankah pelajar sekarang adalah penerus masa depan bangsa.

Hidup pelajar Indonesia.

Dayeuhluhur, 08 Agustus 2009


1 komentar:

  1. lanjutkan mang, lumayan bikin saya termotifasi untuk ngaak punya hp, heee

    BalasHapus